Translate the text into Indonesian
If you have ever started a business, you must be
aware that no matter how great your product or service is, your business won’t
head anywhere unless you make a sale. Marketing helps you get the product to a consumer,
but as an art, it is extensive. Consumers must be grouped according to various
categories (market segmentation) based on some similarity or commonality. There
are various ways to segment a market: Geographical segmentation, lifestyle or
psychographic segmentation, distribution segmentation, price segmentation and
demographic segmentation, just to name a few.
However, our focus is on the demographic
segmentation, which generally involves grouping the markets into sub-categories
based on demographic variables such as occupation, age, religion, nationality,
gender, income, race, family size and education. Most marketers prefer
segmenting a market based on demographic variables, partly due to the fact that
a customer’s preferences are closely related to variables such as age and
income.
Exercise #2
Translate the text into English
1
Mei 1918 merupakan peringatan Hari Buruh Sedunia pertama di Indonesia dan
pertama di Asia. Peringatan ini dilakukan di Surabaya, Jawa Timur, di bawah
kendali Serikat Buruh Kung Tang Hwee Koan dan Persatuan Sosial Demokrat
Hindia Belanda (ISDV). Henk Sneevliet didampingi Bars, pimpinan ISDV,
menyampaikan pesan yang terkenal dengan judul “Peringatan 1 Mei Pertama Kita”.
Tulisan Sneevliet dipublikasi secara massal. Namun, belum mendapat sambutan
baik dari masyarakat Hindia-Belanda (Indonesia).
Peringatan
Hari Buruh Sedunia pertama di Indonesia didominasi oleh golongan kaum komunis.
Baru kemudian pada tahun 1921, golongan komunis dan non-komunis, di bawah
pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto bersatu bersama-sama merayakan Hari Buruh
Sedunia. Anak didik Tjokroaminoto, Soekarno, naik ke atas podium memberikan
sebuah pidato mewakili Serikat Buruh yang pada waktu itu masih di bawah
pengaruh Sarekat Islam (SI).
Perayaan
Hari Buruh Sedunia lebih progresif terjadi pada tahun 1923. Semaun, Ketua SI
Semarang, memimpin aksi pemogokan masal VSTP (serikat buruh kereta api) di
Semarang. Pemogokan tersebut mengangkat isu utama seperti waktu kerja delapan
jam, penundaan penghapusan bonus sampai janji kenaikan gaji dipenuhi,
penanganan perselisihan ditangani oleh satu badan arbitrase independen, dan
pelarangan PHK tanpa alasan.
Peringatan
Hari Buruh Sedunia mendapat pelarangan saat pemerintahan Soeharto berkuasa.
Karena pada masa orde baru itu peringatan Hari Buruh Sedunia dianggap sebagai
aktivitas subversif, dikaitkan dengan gerakan komunis dan peristiwa G30S.
Setelah pemerintahan orde baru tumbang, rakyat Indonesia kembali merayakan Hari
Buruh Sedunia sampai sekarang.
Pada
peringatan Hari Buruh Sedunia 2015, kaum buruh Indonesia turun ke jalan untuk
menyuarakan dan menuntut hak-haknya. Tuntutan mereka hampir sama dengan tahun
sebelumnya. Saat ini kaum buruh Indonesia tidak hanya terhimpit oleh persoalan
lama seperti upah rendah, outsourcing, sistem kerja kontrak, dan jaminan sosial
minim. Tapi juga harus berhadapan dengan arus masuk buruh dari negara ASEAN
lainnya. Kepastian kerja semakin tipis, daya tawar menurun.
Pencabutan
subsidi dan menyerahkan ekonomi pada pasar bebas, berdampak pada kenaikan
harga-harga kebutuhan pokok dan BBM. Begitu juga dengan naiknya biaya kesehatan
dan pendidikan yang mengakibatkan rakyat semakin sengsara.
Kaum
buruh Indonesia terus melakukan aksi bersama turun ke jalan selama negara belum
berpihak kepada kesejahteraan rakyat. Selama sistem ekonomi masih menghamba
pada kepentingan kaum modal yang berdampak pada penindasan kaum pekerja.
Pada
momentum Hari Buruh Sedunia 2015 ini, kaum buruh Indonesia menyerukan 10
Tuntutan Buruh dan Rakyat Indonesia (Sepultura), yaitu:
- Hapus sistem kerja kontrak dan outsourcing.
- Tolak politik upah murah: berlakukan upah layak nasional.
- Tolak PHK, union busting, dan kriminalisasi anggota dan pengurus serikat buruh.
- Laksanakan hak-hak buruh perempuan dan lindungi buruh migran indonesia.
- Tangkap, adili, dan penjarakan pengusaha nakal.
- Jaminan sosial bukan asuransi sosial.
- Turunkan harga BBM dan kebutuhan pokok.
- Pendidikan dan kesehatan gratis untuk rakyat;.
- Tolak privatisasi: bangun industri nasional untuk kesejahteraan rakyat.
- Tanah dan air untuk kesejahteraan rakyat
Hari
Buruh Sedunia harus diisi dengan penyatuan kekuatan gerakan buruh. Perjuangan
buruh bukan saja merupakan perjuangan domestik, tetapi juga internasional.
Karena hampir semua bentuk eksploitasi, hubungan produksi dan sistem ekonomi
yang merugikan buruh, bersifat internasional.